Rabu, 02 Januari 2013

Bendung Kanal Di Rawa Gambut Tripa

Sudah saatnya rawa gambut Tripa di restorasi,  pihak yang membuka kanal (sungai kecil) di rawa gambut tripa untuk pengeringan rawa  wajib mengembalikan fungsi rawa gambut yakni membangun bendungan agar rawa Gambut Tripa kembali seperti semula.
Bendungan ini diharapkan akan membantu membasahkan kembali rawa dan mencegah kebakaran hutan di sekitar rawa,  tentu saja pembendungan kanal ini akan mengembalikan memulihkan habitat ikan ikan air tawar yang ada disekitar rawa,seperti lele (limbek)  Ikan gabus, naleh dan ikan tawar lainnya,  sumber protein ikan - ikan ini merupakan mata pencaharian utama di wilayah ini, hilangnya air di rawa berarti telah merusak sarang ikan dan kanal ini telah menghilangkan  mata pencaharian masyarakat sekitar.

Tanpa adanya proses aksi dan implementasi dengan membendung kanal,  maka lahan akan kembali mudah untuk digrogoti  karena akan mudah untuk akses masuk kembali ke rawa gambut ini , Retorasi Rawa dengan membendung kanal sudah seharusnya dilakukan oleh perusahaan yang nota bene membuat kanal ini,  juga tentu saja bisa dilakukan oleh LSM konservasi bersama masyarakat sekitar dengan dukungan Pemerintah Aceh , dengan membuat kanal di beberapa titik lokasi dan tentu saja dibentengi dengan kebijakan lokal tentang bendungan kanal ini agar bendungan kanal ini dilindungi . 

dengan aksi membendung kanal maka air rawa akan kembali menyebar ke rawa dan membentuk ekosistem lahan basah dan menumbuhkan tanaman - tanaman tertentu dan diharapkan rawa gambut tripa akan pulih , tanpa aksi nyata membuat bendungan di kanal maka rawa gambut Tripa akan kembali dijarah atau rusak.

Teks :FORA
Sumber Photo Yusriadi (Globe Jurnal)

Minggu, 26 Februari 2012

Rafly Dukung Kampanye Konservasi Lahan Basah Aceh


Inisiatif kampanye konservasi lahan basah di Aceh yang dijalankan bersama Koalisi untuk Advokasi Laut Aceh (Jaringan KuALA), Forum Orangutan Aceh (FORA), Wetlands International Indonesia Programme (WIIP) dan World Wild Fund for Nature (WWF) – Indonesia, mendapat apresiasi dan dukungan Rafly. Rafly adalah seniman ternama Aceh yang mendedikasikan karya-karyanya selama ini untuk menggugah hati dan nurani masyarakat kembali pada semangat nilai-nilai budaya Aceh yang bermartabat dan menjadi teladan melalui lagu-lagu berwarna ke-Acehan.

Dukungan tersebut dinyatakan Rafly saat dalam konferensi pers “Malam Akustik Lingkungan Kampanye Konservasi Lahan Basah Aceh” hari ini (24/2) di haba cafĂ©, lampriet Banda Aceh. “Saya bersama Manajemen Rafly Kande siap mendukung adik-adik panitia untuk menyukseskan kegiatan kampanye ini dengan tampil pada malam akustik lingkungan nanti,” imbuh Rafly.

“Saya sangat apresiatif dengan teman-teman, karena selama ini dengan segala keterbatasan yang dihadapi, adik-adik, terutama dari Jaringan KuALA dan FORA, terus bersemangat beraktivitas dalam menjalankan kegiatan kampanye dan advokasi lingkungan di Aceh”, lanjut Rafly.

“Management Rafly Kande sangat mendukung inisiatif kampanye ini dan berharap kontribusi dari aktivis budaya dan seni seperti kami, gerakan pelestarian lingkungan, terutama konservasi ekosistem pesisir dan laut, seperti halnya lahan basah dapat lebih bergema dan lebih didengar dan mendapat dukungan pemerintah dan masyarakat secara luas,” jelas Rafly lagi.

“Saya berharap dukungan kami ini menjadi tambahan semangat kawan-kawan untuk konsisten bergerak dalam kegiatan pelestarian dan pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan,” harap Rafly.
Sementara itu, Ketua Panbers, Irma Suryani, menyatakan rasa salut dan terimakasih atas dukungan dan kontribusi dari Rafly dan Manajemen Rafly Kande. “Dukungan dari bang Rafly dan Manajemen Rafly Kande ini sangat berarti dan menjadi bagian penting dari kampanye ini. Kami sangat salut dan berterimakasih,” ucap Irma.

“Malam Akustik Lingkungan ini  berlangsung di Haba Cafe, Lamprit, Banda Aceh, mulai pukul 20.30 WIB sampai dengan selesai pada hari sabtu, tanggal 25 februari 2012. Disamping itu, selain menampilkan performance Rafly, acara ini juga akan didukung oleh beberapa seniman aceh lainnya.

Selasa, 24 Januari 2012

Perbankan Indonesia Selamatkan Orangutan

Pihak Perbankan di  Indonesia maupun Perbankan Internasional  sudah selayaknya menghentikan pemberian kredit bagi perusahaan penghancur habitat orangutan dan perushaan sawit pengrusak hutan di Kawasan Ekosistem Leuser  dan  Perusahaan sawit tersebut  telah menghancurkan secara sistematis  kantung habitat Orangutan Sumatera.

Pihak Perbankan harus  menscreening dan menilai Perusahan sawit secara cermat dan pro lingkungan jika perlu jangan lagi memberikan pinjaman uang bagi perusahaan yang menghancurkan habitat orangutan, dan saat ini pihak  Perbankan secara langsung dan tak  langsung  telah memberikan akses  bagi penghancuran hutan di Kawasan Ekositem Lesuer seperti Rawa Tripa, Rawa singkil,  hutan dan berbagai areal hutan di KEL yang siap dilahap traktor perusahan sawit yang rakus.

Saat ini perusahaan sawit dengan ganasnya telah menghancurkan habitat orangutan di Rawa Tripa , Uang perbankan yang dipinjamkan ke perusahaan Sawit telah membinasakan ekosistem hutan, uang yang diberikan perusahaan telah menghidupkan mesin -mesin traktor ganas menghancurkan kawasan hutan.

Pihak Bank hentikan memberi kredit bagi  perusahaan sawit yang membunuh orangutan, bunga kredit Bank anda telah Meluluh lantakan hutan, Jangan beri pinjaman uang bagi  perusahaan yang akan mendatangkan bencana alam yang menyengsarakan masyarakat, jadilah Green Bank yang peduli akan habitat penting orangutan. Pihak perBankan selamatkan orangutan dari kepunahan (az)

Kamis, 19 Januari 2012

Manusia Laknat Penghancur Habitat Orangutan

Terpenjara di Jeruji akibat ulah manusia ,Katanya Orangutan di lindungi oleh Undang-Undang  di republik ini, tapi habitat orangutan selalu dirusak oleh peKebun Sawit, padahal Orangutan Sumatera telah membuat manusia kaya, pertumbuhan pohon dan kecambah hingga menjadi pohon disebar dihutan oleh Orangutan Sumatera melalui kotorannya, dan hasilnya adalah  tumbuhnya  pepohonan ratusan jenis dan menghasilkan jutaan kubik kayu,pohon pohon dipanen oleh manusia untuk pembuatan rumah , gedung dan berbagai kepentingan lainnya.

Hutan dan tumbuhan juga membantu melindungi tata air menjaga cacthment area di daerah aliran sungai hingga akhirnya manusia mencicipi air minum segar setiap hari, tapi perkebunan sawit menghancurkan keragaman jenis hutan dan akibatnya orangutan terbunuh di tanahnya sendiri, orangutan tergusur di rumahnya sendiri. 

Ketamakan manusia terus terjadi dalam pengahancuran ekosistem  hutan. Penegakan hukum untuk orangutan juga tak menyentuh para pengusaha perkebunan sawit, satwa merah ini terus berkurang di habitat aslinya di Hutan Aceh , Orangutan menunggu maut di Hutan Aceh,tanpa ada upaya penyelamatan yang serius oleh Pemerintah Aceh maka cepat atau lambat orangutan Sumatera di Aceh akan punah, saat ini terlalu banyak manusia laknat dan serakah penghancur hutan di negeri ini, manusia laknat yang hanya mencari uang di hutan. manusia terlalu laknat menghancurkan kantung kantung habitat orangutan sumatera di Aceh. mungkin orangutan akan berkata "kami akan membalas dengan bencana Alam yang super besar karena kami mahluk Allah yang sangat berhak hidup di Bumi.(az)

Rabu, 11 Januari 2012

BPKEL Relokasi Orangutan Terjebak di Perkebunan

KUALASIMPANG - Badan Pengelola Kawasan Ekosistem Leuser (BPKEL) wilayah Aceh Tamiang, bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, melakukan relokasi terhadap orangutan (mawas) yang terjebak di lahan perkebunan perusahaan milik PT Bahruni di Kecamatan Kejuruan Muda, Aceh Tamiang.

Koordinator BPKEL wilayah Aceh Tamiang, Tezar Pahlevie kepada Serambi Senin (9/1) mengatakan,  orangutan Sumatera yang terjebak di perkebunan perusahaan itu adalah jenis mawas sebanyak enam ekor. “Yang kita relokasi baru dua ekor,”ujarnya.

Empat ekor lagi masih terpisah dengan rombongan mereka dan belum ditemukan, namun masih berada dalam areal perkebunan. Satwa ini meruapakan satwa langka yang harus dilindungi karena populasinya semakin menurun.

Awalnya setelah ditangkap, BPKEL bersama KSDA Aceh dan organisasi pencinta satwa langka antara lain forum orang utan Aceh, pusat informasi orang utan, dan sumatera orang utan conversion program, merencanakan  mawas  tersebut akan di relokasi ke hutan lindung tanah rata, Desa Rongoh, Kecamatan Tenggulun, Kabupaten Aceh Tamiang. Namun karena akses menuju hutan Desa Rongo terputus akibat banjir, orangutan tersebut direlokasikan ke hutan terdekat.

Umur anak orangutan yang direlokasi ke hutan sekitar satu tahun, tapi ukuran dan umurnya tidak sebanding, anak mawas tersebut terlihat kecil dan kurus diduga disebabkan kekurangan makanan saat berada di lahan perkebunan.(md) Sumber berita Serambi Indonesia Selasa 10 January 2012



Senin, 09 Januari 2012

60 Ekor Orangutan Terjebak di Hutan Aceh Tamiang

Akibat semakin rusaknya kawasan hutan yang ada di Aceh Tamiang, banyak Fauna baik yang dilindungi maupun tidak semakin hilang habitatnya. di Kecamatan Tamiang Hulu tepatnya di Kampung Wonosari, kawasan Gunung Titi Akar dalam seminggu terakhir telah terperangkap sekitar 60 Orangutan.

Wak Udin, salah seorang masyarakat setempat kepada Suara-Tamiang.com (9/1) mengatakan, sekelompok Orangutan ini diperkirakan terperangkap di kawasan ini saat mencari makanan karena semakin sulitnya bahan makanan akibat pembukaan Perkebunan Kelapa Sawit yang semakin menggila di Bumi Muda Sedia.

Wak Udin, yang juga staff LSM LembAHtari, lebih lanjut mengatakan, pihaknya pada rabu mendatang (11/1) akan turun ke lokasi untuk melihat dan memantau langsung Orangutan yang terperangkap di Gunung Titi Akar tersebut. | Sumber
 
 

Kamis, 17 November 2011

AHLI TUMBUHAN ACEH

Tak banyak yang tahu bahwa di Aceh terdapat ahli tumbuhan (fenoloy) atau ilmu botani  dan itu bukan dari kalangan akademisi akan tetapi dari kalangan masyarakat, pakar  tumbuhan tersebut adalah Ibrahim (50 tahun) akrab di panggil dengan nama Bang Him, Orang nya ramah, jujur dan sangat terbuka  akan ilmu ,
Bang Him berasal dari Desa Balee Lutu Ketambe Aceh Tenggara, Dulu beliau belajar Ilmu Tumbuhan tumbuhan dari para ahli  tumbuhan lokal di ketambe , hingga sering memandu para peneliti primata di stasiun penelitian Ketambe Aceh Tenggara , di era tahun 80 an hingga sekarang tetap aktif membantu meneliti flora Hutan Aceh dan Sumatera,
Telah banyak para peneliti asing menaruh harapan padanya,  para peneliti kelas dunia dari belanda,amerika hingga Inggris, seperti   Carel Van Schaijk, Nico Van Strein, Elezabeth Fox, Ian Singletown dan banyak lagi para ahli yang sangat memerlukan  jasa Bang Him untuk pengenalan jenis tumbuhan di hutan Aceh ,
Bang Him secara langsung telah banyak melahirkan para master,doktor dan profesor dibidang Biologi, Botani  dan satwa liar  bertaraf  Internasional,  Bang him harusnya di beri gelar khusus oleh Universitas di Negeri ini, Univeritas di negeri ini harusnya mengangkat dan memberi gelar bagi orang seperti Bang Him yang sangat berdedikasi untuk konservasi,  biology dan biodiversity di Aceh dan Sumatera.(az)

Selasa, 18 Oktober 2011

SUARA UNTUK RAWA TRIPA

Wahai Pemerintah,  pembangunan itu perlu tapi jangan merusak hutan, suara untuk membela kepentingan hutan akan terus kami dendangkan, suara sipil untuk rawa tripa akan terus kami lakukan,  aksi -aksi untuk penyelamatan hutan tersisa di Rawa Tripa,
Pemerintah Aceh tolong dengarkan "hentikan izin konsesi lahan  Perkebunan  Sawit di Rawa Tripa, wahai Pemerintah Aceh masih banyak usaha ekonomi untuk  mensejahterakan rakyat Aceh,  buat apa menghancurkan hutan indah di rawa tripa(az)

AKSI UNTUK RAWA TRIPA

Aksi Damai Untuk Penyelamatan Rawa Tripa di Bundaran Simpang Lima Kota Banda Aceh ,aksi ini dilaksanakan tangal 17 Oktober 2011,  Pukul  09..wib -11,000 Wib,  Aksi simpatik ini berkoloborasi  berbagai Lembaga lingkungan seperti  Walhi Aceh, Forum Orangutan Aceh (FORA)  Jaringan Kuala dan SILFA dan berbagi komponen masyarakat sipil lainnya,

Kegiatan ini untuk menyuarakan ke pihak pengambil kebijakan di Aceh agar lebih hati-  hati dalam melaksanakan pembangunan  dan Aktivis lingkungan menuntut Pemerintah Aceh untuk menghentikan Penghancuran Rawa  Tripa di Nagan Raya , aksi damai ini berlangsung tertib dan diselingi dengan aksi nyanyian lingkungan oleh artis seni Aceh bang Made in Made yang menyanyikan lagu Regee  Aceh untuk selamatkan rawa  tripa dan juga dalam aksi ini menampilkan boneka orangutan sebagai simbol Rawa Tripa , Save Rawa Tripa dari perselingkuhan Pemerintah dan Pengusaha dalam menghancurkan hutan(az)

Sabtu, 15 Oktober 2011

TANAH ENDATU RAWA TRIPA DIRUSAK PARA PENDATANG

Rawa tripa warisan para endatu,hutan rindang ini kini terus dirusak oleh para pendatang yang membuka kebun sawit, Rawa Tripa dulu adalah tempat berjuang  pejuang muslimin mempertahankan Aceh dari penjajah Kafir Belanda,  di Rawa tripa ini para Pejuang Aceh Nagan Raya bergreliya mempertahankan sejengkal tanah endatu, di Tanah Rawa ini bersemayam spirit pejuang muslimin Aceh Nagan Raya , Rawa ini adalah benteng pertahanan perjuangan kaum pejuang Muslimin Nagan Raya , kini Rawa Tripa warisan endatu dikhianati oleh para pendatang yang merusak benteng alam perjuangan ini,Wahai Pendatang Jangan DIrusak Warisan endatu kami ini(az)

Senin, 10 Oktober 2011

KEBUN SAWIT DI RAWA TRIPA

kebun sawit  yang katanya Tanaman Emas menghasilkan ekonomi bagi daerah dan nasional, kebun sawit ini saat di buka sama sekali  tak perduli akan dampak kerusakannya,

kebun sawit di Rawa Tripa ini atas izin Pemeritah, Perusahaan kebun Besar Sawit  melengkapi  semua izin dan segala izin ditempuh agar medapat lahan konsesi,
Harusnya rawa indah dipertahankan  karena rawa ini memilki ekosistem yang unik dan luar biasa. rawa Tripa adalah  anugarah ALLAH SWT,  tapi ekonomi Global minyak sawit mengancam rawa ini dengan investasi perkebunan, Rawa Tripa dibuka demi kebutuhan kebun ekonomi yang katanya mensejahterakan Rakyat Aceh sekitarnya, padahal  kesejahteraan Kebun Sawit hanya milik segelintir orang yakni Pengusaha dan Pejabat , 

berapa banyak masyarakat Indonesia yang kaya akan sawit? Berapa banyak masyarakat Aceh yang kaya  dari perkebunan Sawit?mari kita jawab bersama pertanyaan ini,

Merubah fungsi hutan di provinsi Pencetus Moratorium Logging  dengan sawit sangat tidak masuk di akal , harusnya Hutan dipertahankan karena di Provinsi ini  melekat visi Aceh Green, tapi apa mau dikata Rawa Tripa terus di grogoti, Hutan ciptaaan ALLAH SWT  ini diubah oleh manusia pencinta ekonomi(az)

RAWA TRIPA TERKOTAK KOTAK

Kondisi rawa gambut Tripa saat memprihatinkan. Kawasan rawa tersebut didegradasi oleh berbagai aktivitas kebun sawit. penyusutan gambut ini akibat adanya perubahan penggunaan lahan/vegetasi penutupan lahan yang digunakan untuk pengembangan kebun besar sawit
Rawa tripa ter Kotak kotak oleh konsesi sawit?, Prihatinkah kita ? lahan yang dulunya rimbun di gerus oleh geliat ekonomi sesaat, Rawa Tripa di kotak - kotakan  dijual ke pengusaha,  akan kah kebun sawit mensejahterkan masyarakat di Nagan Raya dan sekitarnya? Apakah benar kebun sawit meningkatkan PAD? kemana aliran dana  PAD dari sawit tersebut ? akan kah PAD dari Sawit kembali ke masyarakat sekitar di Rawa Tripa? ini pertanyaan penting yang harus dijabarkan pemerintah setempat,  jika dibandingakan dengan ancaman yang  ditimbulkan akibat perusakan habitat Rawa Tripa? atau Rawa Tripa siap menuntut balas dengan amukannya suatu saat nanti, Selamat datang bencana Alam di Rawa Tripa?   (az)

Minggu, 09 Oktober 2011

KAJI ULANG PEMBUKAAN PERKEBUNAN SAWIT DI RAWA TRIPA


Rawa Tripa adalah Benteng alami  penahan bencana  alam seperti badai topan, gelombang pasang air laut dan tsunami, kontribusi Rawa tripa sebagai pengatur system air alami rawa mencegah terjadinya banjir pada musim penghujan serta menyediakan sumber air tawar  bagi lahan pertanian sekitarnya. secara umum akan terjadi perubahan iklim lokal yang disebabkan oleh perubahan vegetasi hutan yang beranekaragam menjadi perkebunan kelapa sawit yang monokultur.
Rawa Tripa memiliki keanekaragaman hayati tinggi flora maupun fauna.  hutan rawa gambut Tripa merupakan habitat spesies terancam punah Orangutan Sumatera (Pongo abelii) dengan kepadatan tertinggi di dunia.  juga kawasan gambut ini melestarikan sebagian besar populasi orangutan sumatera yang tersisa (30% dari 7000 di dunia) yang sekarang berstatus “critically endangered”. Penyelamatan spesies ini adalah tujuan utama  Pemerintah Indonesia tertuang dalam Peraturan Menteri Kehutanan No. P.53/Menhut-IV/2007 dimana tentang Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Orangutan Indonesia 2007-2017.

Rawa gambut tripa saat ini dalam keadaan rusak parah, kawasan ini dialih fungsi menjadi kebun sawit. kawasan Rawa Tripa seluas 63.228 hektar, hanya tersisa 15.595 ha (24 persen) hutan yang masih relatif bagus  dan 9.819 ha ( 15 persen) sudah hancur akibat konsversi perkebunan sawit . Kawasan hutan gambut Rawa Tripa  sebagian besar sudah dialih fungsikan ke Perusahaan perkebunan Sawit , terdapat  lima  HGU besar yang sekarang bekerja di Rawa Tripa  PT. Kalista Alam, PT. Astra Prima Lestari, PT. Gelora Sawit Makmur, PT. Cemerlang Abadi dan PT. Patriot Guna Sakti (sekarang sudah dikuasai oleh Pemkab Aceh Barat Daya untuk proyek pengembangan PIR kelapa sawit).

Total Luas HGU kelima perusahaan tersebut adalah 38.150 hektar. Padahal jika di cermati Produksi kelapa sawit akan menurun walaupun yang berada di sekitar rawa dan berada di tanah-tanah mineral akibat banjir yang akan sering terjadi dan dengan volume air yang semakin besar, berubahnya iklim mikro lokal serta musnahnya keanekaragaman hayati yang biasa berfungsi mengendalikan populasi hama pertanian. Juga Pembukaan sawit akan ini berdampak meningkatnya angka kemiskinan bagi masyarakat yang tidak memiliki keahlian dan lahan yang tidak produktif. 
.
Forum Orangutan Aceh (FORA) menghimbau Pemerintah Aceh, Jika rawa ini diubah fungsikan menjadi kebun sawit maka pusat biodiversity akan punah, Luas totla 38.150 ha perkebunan kelapa sawit juga akan tenggelam, hilangnya 40 jenis ikan bernilai ekonomis tinggi dan Pemerintah Aceh akan kehilangan 63.228 ha wilayah daratan, ujarnya. Selain itu pengeringan rawa gambut dan pembakaran lahan yang dilakukan perusahaan perkebunan sawit telah memicu peningkatan emisi rumah kaca akibat pelepasan karbon

Forum orangutan Aceh menyarankan agar Pemkab Nagan Raya dan para pihak terkait agar dapat lebih meningkatkan hasil pertanian dan perkebunan pada tanah-tanah mineral di sekitar hutan rawa gambut Tripa dengan menerapkan kriteria-kriteria dan prinsip-prinsip RSPO (Rountable on Sustainable Palm Oil = Kesepakatan Meja Bundar untuk Kelapa Sawit Berkelanjutan), untuk meningkatkan kesejahteraan sosial, ekonomi dan lingkungan dari produksi kelapa sawit yang bertanggung jawab yang menjamin keberlangsungan manfaat, baik untuk masyarakat maupun pemerintah lokal.

Forum  Orangutan Aceh mendorong Pemerintah Aceh untuk dapat mengedapankan penerapan mekanisme Jasa lingkungan di wilayah  hutan rawa gambut Tripa yang dapat dimanfaatkan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat, sehingga sangat penting untuk meningkatkan pemahaman, kesadaran dan pendidikan diantara pemangku kebijakan tentang pentingnya perlindungan hutan rawa gambut Tripa dan resiko bencana.
FORA menghimbau  Pihak Pemerintah Aceh untuk dapat menyelamatkan Rawa Tripa dengan mengkaji ulang areal konsesi perkebunan sawit, jika ini diabaikan maka Pemerintah Aceh turut andil mengkonversi hutan rawa gambut Tripa menjadi areal perkebunan atau penggunaan lainnya maka paling lambat 25 tahun ke depan kawasan dataran rendah Tripa akan tenggelam. Beberapa kota kecamatan Kota Alue Bilie dan Babah Rot, Kabupaten Aceh Selatan akan menjadi batas garis pantai Samudera Hindia.(az)

Senin, 03 Oktober 2011

ORANGUTAN SUMATERA MENGGUNAKAN ALAT

Orangutan satwa arboreal yang sebagian besar hidupnya untuk mengkonsumsi buah - buahan dari hutan, sebagian kecil menyantap serangga dan  (meneguk?) kambium, hewan berwarna coklat kemerah-merahan juga memiliki inteligensi yang lebih dari satwa lainnya, Prof.  Dr Carel van Schaik ahli orangutan Sumatera  berkebangsaan belanda yang pernah meneliti tingkah laku orangutan sumatera di era tahun 80 –an menemukan  salah satu dari tingkah laku Orangutan Sumatera, yaitu kemampuan dalam menggunakan alat yang di-istilahkan dengan “Tool use “ yaitu penggunaan ranting pohon kecil berongga (ibarat selang penghisap/sedotan) untuk menyedot madu di sarang tawon, juga Orangutan Sumatera mampu membuka buah cemengang yang berkulit keras dengan menggunakan kayu hal ini terjadi di Suaq balimbing Aceh Selatan.(az)

Sabtu, 01 Oktober 2011

ORANGUTAN SUMATERA (Pongo abelii) BELUM MASUK DALAM PERATURAN PEMERINTAH TENTANG DAFTAR SATWA LIAR YANG DILINDUNGI DI INDONESIA

Sampai saat ini, status  Orangutan Sumatera (Pongo abelii) belum  tertuang dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1999 Tanggal 27 Januari 1999 Tentang Jenis-Jenis Tumbuhan Dan Satwa Yang Dilindungi dan dalam Peraturan tersebut hanya menyebutkan Orangutan sub species Kalimantan Pongo pygmeus,  Penyebutan ini jelas berdampak pada status hukum Orangutan Sumatera tersebut.


Forum Orangutan Aceh (FORA) menghimbau para pihak terkait, para pemangku kepentingan Kementrian Kehutanan  Direktorat KKH untuk dapat memasukkan Orangutan Sumatera ke dalam perubahan Peraturan Pemerintah, jika ini tidak tuntas dan berlarut-larut maka status hukum Orangutan Sumatera kian kabur dalam intepretasi hukum formal, aturan hukum menjadi landasan perlindungan Orangutan Sumatera.(az)

LAMPIRAN
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 7 TAHUN 1999
TANGGAL 27 JANUARI 1999
Jenis-jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi
No.
Nama Ilmiah
Nama Indonesia
SATWA
 I. MAMALIA (Menyusui)
1
Anoa depressicornis
Anoa dataran rendah, Kerbau pendek
2
Anoa quarlesi
Anoa pegunungan
3
Arctictis binturong
Binturung
4
Arctonyx collaris
Pulusan
5
Babyrousa babyrussa
Babirusa
6
Balaenoptera musculus
Paus biru
7
Balaenoptera physalus
Paus bersirip
8
Bos sondaicus
Banteng
9
Capricornis sumatrensis
Kambing Sumatera
10
Cervus kuhli; Axis kuhli
Rusa Bawean
11
Cervus spp.
Menjangan, Rusa sambar (semua jenis dari genus Cervus)
12
Cetacea
Paus (semua jenis dari famili Cetacea)
13
Cuon alpinus
Ajag
14
Cynocephalus variegatus
Kubung, Tando, Walangkekes
15
Cynogale bennetti
Musang air
16
Cynopithecus niger
Monyet hitam Sulawesi
17
Dendrolagus spp.
Kanguru pohon (semua jenis dari genus Dendrolagus)
18
Dicerorhinus sumatrensis
Badak Sumatera
19
Dolphinidae
Lumba-lumba air laut (semua jenis dari famili Dolphinidae)
20
Dugong dugon
Duyung
21
Elephas indicus
Gajah
22
Felis badia
Kucing merah
23
Felis bengalensis
Kucing hutan, Meong congkok
24
Felis marmorota
Kuwuk
25
Felis planiceps
Kucing dampak
26
Felis temmincki
Kucing emas
27
Felis viverrinus
Kucing bakau
28
Helarctos malayanus
Beruang madu
29
Hylobatidae
Owa, Kera tak berbuntut (semua jenis dari famili Hylobatidae)
30
Hystrix brachyura
Landak
31
Iomys horsfieldi
Bajing terbang ekor merah
32
Lariscus hosei
Bajing tanah bergaris
33
Lariscus insignis
Bajing tanah, Tupai tanah
34
Lutra lutra
Lutra
35
Lutra sumatrana
Lutra Sumatera
36
Macaca brunnescens
Monyet Sulawesi
37
Macaca maura
Monyet Sulawesi
38
Macaca pagensis
Bokoi, Beruk Mentawai
39
Macaca tonkeana
Monyet jambul
40
Macrogalidea musschenbroeki
Musang Sulawesi
41
Manis javanica
Trenggiling, Peusing
42
Megaptera novaeangliae
Paus bongkok
43
Muntiacus muntjak
Kidang, Muncak
44
Mydaus javanensis
Sigung
45
Nasalis larvatus
Kahau, Bekantan
46
Neofelis nebulusa
Harimau dahan
47
Nesolagus netscheri
Kelinci Sumatera
48
Nycticebus coucang
Malu-malu
49
Orcaella brevirostris
Lumba-lumba air tawar, Pesut
50
Panthera pardus
Macan kumbang, Macan tutul
51
Panthera tigris sondaica
Harimau Jawa
52
Panthera tigris sumatrae
Harimau Sumatera
53
Petaurista elegans
Cukbo, Bajing terbang
54
Phalanger spp.
Kuskus (semua jenis dari genus Phalanger)
55
Pongo pygmaeus
Orang utan, Mawas
56
Presbitys frontata
Lutung dahi putih
57
Presbitys rubicunda
Lutung merah, Kelasi
58
Presbitys aygula
Surili
59
Presbitys potenziani
Joja, Lutung Mentawai
60
Presbitys thomasi
Rungka
61
Prionodon linsang
Musang congkok
62
Prochidna bruijni
Landak Irian, Landak semut
63
Ratufa bicolor
Jelarang
64
Rhinoceros sondaicus
Badak Jawa
65
Simias concolor
Simpei Mentawai
66
Tapirus indicus
Tapir, Cipan, Tenuk
67
Tarsius spp.
Binatang hantu, Singapuar (semua jenis dari genus Tarsius)
68
Thylogale spp.
Kanguru tanah (semua jenis dari genus Thylogale)
69
Tragulus spp.
Kancil, Pelanduk, Napu (semua jenis dari genus Tragulus)
70
Ziphiidae
Lumba-lumba air laut (semua jenis dari famili Ziphiidae)

Kamis, 29 September 2011

JANGAN PELIHARA ORANGUTAN !!!!!


Terlalu berbahaya jika memelihara orangutan di rumah penyebaran penyakit manusia ke orangutan dan sebaliknya, biarkan orangutan hidup dihutan  yang merupakan rumahnya, mari kita  jaga habitat aslinya hutan Aceh, Menjaga orang utan hidup liar di alam bebas berarti menyelamatkan  hutan Aceh

FORA MENGECAM PEMBUNUHAN ORANGUTAN DI KALIMANTAN

Forum Orangutan Aceh (FORA) mengecam tindakan sadis perusahaan sawit yang membunuh orangutan, Pemerintah perlu menindak tegas pelaku pembunuhan empat orangutan dari Muara Kaman, juga FORA menyayangkan terjadinya pembantaian puluhan ekor orangutan Kalimantan (Pongo Pygmaeus) yang tewas mengenaskan di areal perkebunan kelapa sawit di  Kutai Kartanegara. 

Aksi ini pembunuhan  orangutan kalimantan ini jelas mengandung unsur pidana, Pemerintah  Indonesia harus segara turun kelapangan untuk menyidik aksi brutal terhadap satwa terlangka didunia ini, jika perlu tutup Perusahaan sawit yang membantai orangutan, Perusahan sawit tak ada manfaatnya bagi masyarakat Indonesia, Perusahaan sawit  lebih banyak mudharatnya

Selasa, 01 Juni 2010

Aceh butuh pusat rehabilitasi hewan segera!

Keberadaan pusat rehabilitasi hewan di Provinsi Aceh sepertinya sudah sangat mendesak, mengingat masih banyak dijumpai binatang yang dilindungi berada di luar habitatnya.

Ketua Forum Orangutan Aceh (FORA), Badrul Irfan di Banda Aceh, malam ini menyatakan, ini sudah menjadi prioritas Pemerintah Aceh yang rencananya dibangun di cagar alam Jantho, kabupaten Aceh Besar.

Gubernur Aceh Irwandi Yusuf sudah menyurati Kementerian Kehutanan terkait izin pembangunan pusat rehabilitasi hewan di Aceh yang lokasinya direncanakan di cagar alam Jantho. "Kita mengharapkan, pemerintah memberi izin karena keberadaan pusat rehabilitasi itu sangat dibutuhkan demi kelangsungan hidup binatang dilindungi yang kini berada di luar habitatnya," katanya.
  
Banyak binatang dilingungi seperti harimau dan Orangutan yang hidup di luar habitatnya, termasuk dipelihara masyarakat. Ini tidak dibenarkan dan melanggar Undang-undang (UU) No.5/1990 tentang konservasi sumber daya alam.
  
"Kita akan mensosialisasikan UU tersebut, sehingga masyarakat mengetahui dan jika diantara mereka ada yang memelihara segera diserahkan kepada pihak yang berwenang," katanya.
  
Dia mengemukakan, FORA yang baru terbentuk tersebut akan tetap komit menjaga dan melindungi Orangutan agar populasinya selalu terjaga. Populasi Orangutan di Aceh terus berukurang seiring dengan terganggu habitat aslinya.
  
Penurunan populasi itu disebabkan beberapa faktor seperti tekanan jumlah penduduk, perubahan tata guna lahan, kebakaran hutan, pertambangan, penegakan hukum yang lemah, penebangan hutan alam dan perburuan/perdagangan ilegal.
  
Menurut dia, populasi Orangutan di Sumatara Utara dan Aceh kini diperkirakan sekitar 7.000 ekor dan 80 persen di antaranya berada di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) Aceh.
  
FORA terbentuk sebagai upaya mengangkat isu sekaligus mencari solusi terkait konservasi Orangutan. Anggota organisasi ini terbuka dan melibatkan pemerintah, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dunia usaha, akademisi dan masyarakat.
 
"Kami mengharapkan semua komponen masyarakat yang tergabung dalam organisasi ikut membantu mensosialisasikan isu-isu penting mengenai keberadaan Orangutan yang kondisinya kini kian terancam dan sekaligus mencari solusinya," kata Badrul.

Translate

Laman